Monday, June 10, 2013

Antara Festival Tari dan Pernikahan

Awalnya daku memulai hari ini seperti biasanya dan terasa biasa-biasa saja.  Di penghujung hari ini, ternyata daku menemukan rentetan peristiwa yang tampaknya sederhana tetapi terasa luar biasa.  Daku yakin ini bukan kebetulan, sebab Allah ingin mengajarkan sesuatu kepadaku di dalam dinamika kehidupan ini.
          Setelah selesai pelayanan pagi, seperti biasanya daku menyapa jemaat dan menyediakan waktu bagi mereka yang mau shering.  Ada seseorang yang daku lihat tampaknya biasa-biasa saja, sedang duduk sendirian.  Daku dekati dia dan menyapanya dengan sapaan yang seperti biasanya: “Ibu, bagaimana kabarmu hari ini?”  Kemudian dia berkata: “Kamu tahu apa yang terjadi tadi malam?  Itu adalah puncak kemarahanku dengan suamiku!  Aku sudah tidak mampu lagi berpikir tentang keluargaku!  Perasaanku sudah mati dan harapanku sudah hilang!”  Tanpa daku minta, dia dengan sangat terbuka mensheringkan apa yang terjadi di dalam keluarganya.  Beberapa kali dia mengusap air matanya.  Setelah lebih dari 2 jam, akhirnya dia merasa cukup puas mengeluarkan beban hidup rumah tangganya.  Daku tidak berani berkomentar apa-apa karena memang daku tidak tahu apa yang harus daku katakan kepadanya.  Dalam hati daku berdoa: “Tuhan Yesus, tolonglah dia!”  Sejenak kami diam.  Setelah beberapa saat, entah kenapa hati ini terdorong untuk mengungkapkan sesuatu kepadanya: “Ibu, daku tidak tahu harus berkata apa, sebab itu pasti sangat berat!  Tetapi daku melihat ada sebuah paradoks yang Allah kerjakan dari peristiwa tadi malam itu.”  Dengan wajah penasaran, dia bertanya: “Apa paradoks itu?”  Daku coba jelaskan dengan hati-hati: “Ibu, dahulu daku pernah beri dorongan supaya kalian konseling, tetapi dirimu bilang bahwa suamimu gak akan mungkin mau konseling.  Tetapi bukankah melalui peristiwa tadi malam justru suamimu yang akhirnya minta untuk konseling?  Saat harapan pribadi kita hancur total, saat itulah harapan Tuhan mulai dibangun!  Inilah kesempatan yang terbaik untuk mengajak suamimu konseling!”  Dia terdiam.  Beberapa waktu kemudian daku melihat dari matanya ada secercah harapan yg mulai menyala.  Dia berkata: “Ya, akan kucoba.  Terima kasih pak Kris!”  Kami bersalaman dan dia pergi meninggalkan gereja.
          Sore harinya, daku datang ke ibadah.  Pembicara, tema, dan ayat firman Tuhan sama dengan ibadah pagi.  Tetapi khotbahnya ternyata berbeda.  Khotbah ibadah pagi lebih banyak konsep tentang pernikahan dan keluarga.  Tetapi khotbah ibadah sore lebih banyak contoh kasus di dalam pernikahan dan keluarga.  Beberapa jemaat yang daku jumpai setelah selesai ibadah merasa sangat diberkati.  Hatiku pun bersyukur kepada Allah yang telah mencurahkan berkat-Nya.  Setelah ganti baju, daku keliling kota Solo sambil mencari tempat makan malam.  Daku berhenti di sebuah warung yang sederhana dan memesan lele bakar untuk makan malam.  Beberapa saat kemudian, pesananku datang.  Ternyata ada 2 ekor lele bakar di dalam 1 piring.  Dalam hati daku berkata: “Tadi pagi dengerin orang shering pergumulan tentang pernikahan.  Sore ini dengerin khotbah tentang pernikahan.  Sekarang ada 2 ekor lele di dalam 1 piring.  Wah gawat, jangan-jangan ini lele jantan dan betina yang setelah menikah, mereka tertangkap manusia dan sekarang jadi menu makan malamku.  Kalau begicu, sepasang lele ini harus segera daku habiskan supaya penderitaan mereka segera berakhir.”
          Puas menikmati sepasang lele bakar, daku lanjutkan keliling kota Solo.  Kulihat kerumunan massa sedang melihat sebuah pertunjukkan.  Daku baru ingat kalau hari ini ada festival tari selama 24 jam non-stop di sepanjang jalan utama kota Solo.  Daku berhenti dan sejenak menikmati festival tari tersebut.  Kulihat seorang laki-laki dan seorang perempuan sedang menari mengikuti dinamika music tradisional Jawa.  Tampak sepasang penari tersebut begitu harmonis, selaras dan indah.  Daku yakin mereka pasti sudah berlatih sangat keras dan membutuhkan waktu yang lama untuk dapat menghasilkan sebuah pertunjukan tarian yang mampu membuat banyak orang menikmati keindahannya.  Tiba-tiba hatiku berseru: “Inilah gambaran sederhana dari keindahan pernikahan!”
          Di dalam festival tari, ada music yang penuh dinamika.  Kadang keras, kadang lembut.  Kadang cepat, kadang lambat.  Seorang penari harus belajar keras untuk menyelaraskan gerakan anggota tubuhnya dengan music tersebut supaya dapat menghasilan tarian yang indah.  Paling tidak ada 3 jenis tarian, yaitu: tunggal, berpasangan, dan komunal.  Tentu saja jenis tarian berpasangan jauh lebih sulit dibandingkan dengan tarian tunggal.  Kesulitan tersebut disebabkan penari harus dapat menyelaraskan gerakannya dengan music, sekaligus dengan gerakan anggota pasangannya.  Bukankah di dalam hidup ini juga penuh dinamika?  Ketika masih bujang, kita harus belajar untuk menyelaraskan diri kita sendiri dengan dinamika kehidupan.  Ketika masuk di dalam pernikahan, maka kita harus belajar untuk menyelaraskan diri kita sendiri dengan dinamika kehidupan, sekaligus menyelaraskan diri kita dengan pasangan kita.  Ketika kehadiran anak-anak pun mengisi kehidupan pernikahan, maka dinamikanya pasti berbeda dan harus ada proses menyelaraskan diri lagi.  Kehidupan pernikahan bukanlah statis, tetapi dinamis, seperti tarian yang terus bergerak dan berubah sesuai dengan music yang mengiringinya.
          Sebelum festival tari dipentaskan, maka penari harus mempunyai komitment yang tinggi untuk berlatih dengan keras dan membutuhkan waktu untuk dapat menghasilkan keindahan.  Bukankah demikian juga di dalam pernikahan, dibutuhkan komitment yang tinggi untuk dapat menghasilkan kebahagiaan?  Ada definisi pernikahan yang menurutku terbaik dari yang pernah daku baca: “pernikahan adalah komitmen tak bersyarat terhadap seorang pribadi yang tak sempurna!”  Oleh sebab itu, di dalam kompleksitas dinamika kehidupan pernikahan, dibutuhkan komitmen seteguh mungkin, iman sesederhana mungkin, jiwa sefleksibel mungkin, dan pengorbanan yang sebesar mungkin.  Itulah sebabnya Alkitab menunjukkan bahwa relasi suami-istri di dalam pernikahan harus merefleksikan kasih Kristus kepada jemaat.  Seberat apapun pergumulan di dalam pernikahan, kematian dan kebangkitan Kristus memberikan jaminan yang pasti bahwa masih ada harapan.
          Teruslah menari hai suami-istri… ikutilah iramanya yang penuh arti… jangan pernah berhenti… selama music itu masih berbunyi… maka kebahagiaan dan keindahan memenuhi hati… sehingga orang lain pun diberkati oleh pancaran kasih Ilahi…

4 comments:

Unknown said...

Ulasan yg menarik ^_^

Pancha W. Yahya said...

Renungan yang sangat baik. Sip, kayaknya sudah siap ini penulisnya menikah... soalnya kelihatan sudah menjiwai betul dunia pernikahan

Pancha W. Yahya said...

Renungan yang sangat baik. Sip, kayaknya sudah siap ini penulisnya menikah... soalnya kelihatan sudah menjiwai betul dunia pernikahan

Unknown said...

hehehe...iculah uniknya dinamika kehidupan pak...baru sampai "menjiwai" :D

Post a Comment