Friday, August 23, 2013

Seni Fleksibilitas dalam Dinamika Kehidupan



Ketika ada banyak hal yang terjadi di dalam hidup kita ternyata diluar rencana, kendali, dan kuasa kita, apa yang biasanya kita alami? Kita merasa cemas, gelisah, takut, kuatir, dan mungkin juga marah; entah itu kepada diri sendiri karena kita merasa tidak mampu, atau kepada orang lain karena kita merasa itu akibat kesalahan mereka, atau bahkan kepada Tuhan karena kita merasa Dia tidak berkuasa dan tidak peduli dengan kita.  Mungkin kita berseru kepada Tuhan:  Bukankah sebelum, ketika, dan setelah membuat rencana tersebut aku sudah berdoa kepada Engkau?  Tetapi kenapa Engkau sepertinya diam saja dan membiarkan hal ini terjadi?  Bukankah Engkau Allah Yang Mahakuasa?  Ataukah jangan-jangan ini terjadi diluar pengetahuan-MU?  Mungkinkah Engkau tidak menyertai aku lagi?  Bukankah aku sudah berdoa: Jadilah kehendak-Mu dan memohon berkat-Mu?  Tetapi kenapa yang terjadi justru yang seperti ini?  Bukankah rancangan-Mu bukan rancangan kecelakaan?
Bukankah Allah yang berkata kepada Abraham: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu”? (Kej. 12:1).  Tetapi kenapa begitu keluar dari Ur-Kasdim dan tinggal di Mesir sebagai orang asing ia harus bergumul mengorbankan istrinya?  Kenapa ia harus berpisah dengan Lot dan berperang demi keselamatan anak saudaranya itu?  Bukankah Allah juga yang berkata kepada Abraham: “Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang jika engkau dapat menghitungnya.  Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu” (Kej. 15:5).  Tetapi kenapa ia baru mendapatkan seorang anak yang dijanjikan-Nya ketika umurnya sudah tua?  Kenapa ia harus bergumul mengorbankan anaknya Ishak?  Kenapa ia harus mengusir anaknya Ismael?  Bukankah Allah yang memberi mimpi-mimpi itu kepada Yusuf?  Tetapi kenapa ia justru dibenci dan dijual oleh saudara-saudaranya?  Bukankah ia menjaga kekudusan hidupnya?  Tetapi kenapa ia justru dimasukkan ke penjara?
Bukankah Allah yang berkata kepada Musa: “Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir” ? (Kel. 3:10).  Tetapi kenapa ia mengalami banyak tantangan dan ancaman, bukan hanya dari orang Mesir tetapi juga dari orang Israel sendiri?  Bukankah Allah juga yang berkata kepada Samuel: “Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia” dan sejak hari itu Roh Tuhan berkuasa atas Daud? (1Sam. 16:12).  Tetapi kenapa Daud mengalami hinaan dan ancaman pembunuhan sehingga ia harus hidup di dalam pelariannya?  Bukankah Allah yang berkata kepada Iblis: “Tidak ada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan”? (Ayb. 1:8).  Tetapi kenapa Ayub mengalami penderitaan yang tidak pernah dialami oleh seorang pun: segala hartanya musnah, semua anaknya mati, seluruh tubuhnya busuk karena barah, istrinya  menjadi rekan Iblis, sahabat-sahabatnya menekan dan menuduhnya?
Bukankah Allah yang memilih dan memanggil Yesaya, Yeremia, dan Yehezkiel untuk menjadi nabi-Nya dan memberitakan Firman Tuhan?  Tetapi kenapa umat-Nya tetap tidak mendengarkan pemberitaan mereka?  Bahkan mereka mengalami banyak penderitaan?  Bukankah Allah yang memilih Hosea menjadi nabi?  Tetapi kenapa Dia justru memerintahkan Hosea untuk mengawini Gomer, seorang perempuan sundal?  Bukankah Allah yang memilih Yunus sebagai nabi?  Tetapi kenapa Dia justru memerintahkan Yunus untuk pergi ke Niniwe, bangsa kafir yang sangat kejam?  Bukankah Allah mengasihi umat-Nya?  Tetapi kenapa Dia justru membangkitkan orang Kasdim, bangsa yang garang dan tangkas itu, untuk menghukum umat-Nya?
Bukankah Allah melalui malaikat-Nya berkata kepada Maria: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah”? (Luk. 1:30).  Tetapi kenapa ia mengalami pergumulan dengan Yusuf, tunangannya?  Bukankah mereka berdua mempunyai rencana pernikahan yang sangat indah dan untuk hidup berkeluarga yang wajar seperti halnya pasangan yang lain?  Setelah Maria berkata: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk. 1: 38) dan Yusuf mengambil Maria sebagai isterinya, tetapi kenapa mereka harus mengalami perjalanan dari Nazaret ke Betlehem dalam kondisi Maria sedang hamil tua?  Kenapa mereka tidak menemukan tempat untuk menginap dan melahirkan Anak yang dikandung Roh Kudus itu, sehingga Anak itu harus dilahirkan di dalam kandang?  Bahkan mengapa mereka juga harus terpaksa pergi ke Mesir karena ancaman dari Herodes? 
Bukankah Yesus Kristus yang berkuasa di sorga dan di bumi yang memerintahkan kepada para murid-Nya: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.  Dan ketahuilah, Aku menyertai kami senantiasa sampai kepada akhir zaman”? (Mat. 28:19-20).  Tetapi kenapa para murid-Nya justru mengalami penghinaan, penolakan, penganiayaan, penderitaan, dan bahkan pembunuhan?
          Bagi kita yang sudah membaca akhir kisah dari perjalanan para tokoh Alkitab di atas mungkin akan berkata: “Oh tenang saja, Tuhan kita adalah Allah yang berdaulat, yang mampu mereka-rekakan yang jahat dan buruk untuk menjadikan kebaikan bagi kita (Kej. 50:20).  Bukankah Ia turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kita (Rm. 8:28)?  Jadi, tetaplah percaya dan bersandarlah sepenuhnya pada Allah.  Nantikanlah pertolongan-Nya yang selalu tepat pada waktu-Nya.  Asal kita tetap bertahan!”  Wah, kata-kata yang sungguh menguatkan dan menghiburkan hati.  Tetapi bagaimana kita bisa tetap bertahan dalam menanti penggenapan kehendak-Nya bagi hidup kita?  Mungkin kita akan berkata: “Yah berdoa dan baca firman Tuhan lah, maka dari situlah akan datang kekuatan untuk bertahan.”  Bagaimana bisa tetap berdoa jika seakan-akan Allah tidak menjawabnya?  Bagaimana bisa tetap membaca firman Tuhan jika yang terjadi dan dialami seakan-akan berbeda dengan gambaran idealnya?  Oh, kita seringkali pandai dalam memberi petunjuk-petunjuk rohani, tetapi ketika kita mengalami pergumulan-pergumulan itu sendiri, kita juga pasti memberikan reaksi yang sama dengan mereka.
          Satu hal yang penting kita sadari bahwa reaksi cemas, gelisah, takut, kuatir, dan mungkin juga marah,ketika mengalami pergumulan-pergumulan tersebut adalah wajar dan manusiawi.  Bukankah para tokoh Alkitab itu juga memberikan reaksi yang demikian?  Mengapa reaksi itu wajar dan manusiawi?  Masih ingatkah kita akan kisah Adam dan Hawa?  Mereka jatuh ke dalam dosa karena mereka ingin menjadi seperti Allah, yang berkuasa, berdaulat, dan mengendalikan segala sesuatu.  Mereka lebih merasa aman, nyaman, dan damai jika merekalah yang mengatur hidup mereka sendiri.  Tetapi ternyata keamanan, kenyamanan, dan kedamaian yang mereka dapatkan itu adalah palsu dan fana.  Kecenderungan untuk mengendalikan segala sesuatu yang terjadi di dalam hidup ini dimiliki oleh setip manusia.  Itulah sebabnya mereka takut jika yang terjadi ternyata diluar kendali mereka.
          Yesus Kristus memberikan teladan yang luar biasa, ketika di dalam pergumulan terbesar-Nya, yaitu terpisah dengan Bapa karena menanggung dosa manusia, Dia berkata: “Jadilah kehendak-Mu!”  Ini artinya Dia mempercayakan segala sesuatu yang terjadi di dalam hidup-Nya kepada Allah Yang Mahakuasa dan Mahaberdaulat, yang mengendalikan segala sesuatu.  Sekalipun Dia berkuasa untuk mengambil nyawa-Nya kembali, tetapi Dia tetap mempercayakan kebangkitan-Nya kepada Allah.  Bagaimana dengan kita ketika berdoa: “Jadilah kehendak-Mu”?  Apakah kita menyadari bahwa itu berarti kita menyerahkan kendali dan kuasa penentu hidup kita kepada Allah?  Bukankah memang yang terjadi sesungguhnya Allah-lah yang berkuasa atas seluruh kehidupan ini?  Lalu kenapa jika yang terjadi itu ternyata di luar rencana kita, kita menjadi protes dan kecewa kepada Allah?  Itu menunjukkan bahwa sebenarnya kita belum sepenuhnya mempercayakan hidup kita kepada-Nya. 
Percayakah kita bahwa ketika kita hidup di dalam kebenaran firman-Nya, maka segala sesuatu yang terjadi di dalam hidup kita ini adalah bagaian daripada rencana-Nya yang mulia di dalam hidup kita?  Dia Allah yang mudah disenangkan, tetapi sangat sulit untuk dipuaskan.  Dia tidak akan pernah menyerah sebelum rencana-Nya di dalam hidup kita itu menjadi sempurna.  Jika kita percaya akan kebenaran berita ini, maka kita akan dapat memberikan respon yang tepat di dalam segala pergumulan.  Kita akan belajar untuk menyelaraskan diri dengan kehendak Allah, sekalipun yang terjadi itu diluar rencana, kendali, dan kuasa kita.  Itulah yang saya maksud dengan seni fleksibilitas hidup.  Dengan seni fleksibilitas ini, maka kita dapat menemukan dan menikmati keindahan, kepuasan, dan kebermaknaan dari dinamika kehidupan.  Kita dimampukan untuk mengucap syukur dalam segala keadaan dan melihat kemuliaan Allah, di dalam segala misteri dan paradoks-Nya.  Seni flekibilitas hidup hanya dimiliki oleh orang yang berhati lembut, berjiwa lentur, dan berakal-budi luhur, tanpa kehilangan identitas dan integritas diri sebagai murid Kristus.
Mengapa orang percaya mengalami stress berat ketika rencananya gagal?  Jangan-jangan rencananya itu untuk kemuliaan dirinya sendiri!  Mengapa orang percaya kecewa dengan pasangannya, lalu bercerai?  Jangan-jangan karena cinta dan harapannya tidak realistis!  Mengapa orang percaya kecewa dengan Allah?  Jangan-jangan dia mempunyai gambaran yang salah tentang siapakah Allah yang sesungguhnya!  Seni fleksibilitas hidup memampukan kita untuk mengubah kekecewaan menjadi keintiman yang lebih dalam, sehingga kita mengalami kebahagiaan, keamanan, dan kedamaian yang sejati.
Ketika segala harta bendanya musnah dan semua anaknya mati, Ayub berkata: “Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!”  (Ayb. 1:21)  Alkitab mencatat: “Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut” (Ayb. 1:22).  Ketika seluruh tubuhnya sakit barah yang busuk dari telapak kakinya sampai ke batu kepalanya, bahkan isterinya membujuknya, seperti Hawa membujuk Adam, Ayub berkata: “Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” (Ayb. 2:10).  Alkitab mencatat: “Dalam kesemuanya ini Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya” (Ayb. 2:10).  Di dalam pergumulannya dengan Allah, Ayub akhirnya menjawab: “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.  Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau” (Ayb. 42:2, 6).  Alkitab mencatat keadaan Ayub dipulihkan.
Seni fleksibilitas hidup akhirnya memampukan kita berkata: “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah!  Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!  Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan?  Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya  atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantinya?  Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Rm. 11:33-36).
Proses menyelaraskan diri dengan Allah, diri, sesama, dan alam adalah
seni flkesibilitas dalam dinamika kehidupan

0 comments:

Post a Comment