Friday, September 6, 2013

Kenapa Harus Ada Penundaan? ~ Sebuah Misteri: Kenangan dengan Paulmanto 2



24 Mei 2011
Hari ini saudaraku Paulmanto meninggal…
Daku teringat…

Suatu sore...
Daku lihat Paul sedang setrika baju.  Daku bertanya: “Apa yang sedang dirimu pikirkan Ul?”  Dengan wajah penuh pertanyaan dia menjawab: “Mas Kris, kenapa kok sepertinya Tuhan itu menunda-nunda proses kemoterapiku di Jakarta ya?  Selalu ada saja hambatan sehingga sampai hari ini daku belum dapat kepastian kapan dapat kamarnya.  Apakah itu berarti daku gak usah dikemo lagi ya, diganti dengan obat-obatan saja?”  Kutatap matanya: “Daku gak tau Ul.  Memang kakakku yang dulu pernah sakit kanker usus besar juga tidak melanjutkan paket kemoterapinya, tetapi diganti dengan obat-obatan saja.  Sudah 7 tahun dia masih baik.  Tetapi yang daku tahu pasti adalah tanggung jawab kita untuk berusaha sebaik mungkin, dan mengisi hari seberarti mungkin!”
Lalu percakapan kami lanjutkan sambil duduk di sofa… percakapan tentang kebaikan Tuhan di tengah pergumulan…

Keesokan harinya…
“Mas Kris, dirimu da mana?” teriak Paul.  “Daku da kamar mandi Ul!” jawabku.  Paul bertanya: “Mas, dirimu berani lihat luka dan darah gak?”  Hatiku langsung tersentak: “Ada apa Ul?”  “Daku mau minta tolong dirimu untuk bantuin daku ganti perban” jawabnya.  Hatiku lega: “Oh, daku kira ada apa. Ya, setelah mandi daku ke kamarmu.”
Di kamar Paul, telah tersedia semua alat pengobatan yang dibutuhkan.  Ketika Paul buka baju dan memperlihatkan selang di tangan kanannya, hatiku tersentuh.  “Berapa lama dirimu harus memakai ini Ul?” tanyaku.  “Enam bulan mas” jawabnya.  Paul bertanya: “Gimana mas, sudah siap?”  Jawabku: “He3… Tenang aja Ul, dirimu kan tahu waktu daku kecelakaan, sampai bibir dan pelipisku sobek, daku kan merawat luka-lukaku sendiri.”  Padahal hatiku cukup gentar setelah melihat dan membayangkan betapa sakitnya yang dia rasakan.  Kemudian dia memberikan instruksi-instruksinya bagaimana cara mengganti perbannya, sambil pelan-pelan daku lakukan tiap instruksinya itu.  Hatiku semakin gentar ketika melihat ekspresi wajahnya yang menahan rasa sakit.  Setelah perbannya selesai diganti dengan yang baru, tampak di wajahnya suatu kelegaan.  Hatikupun merasa lega.  Kami berdua tersenyum dan bercanda lagi.
Sambil penuh harap Paul bertanya: “Mas Kris mau ikut wisuda bulan Mei 2012?  Batas maksimal supaya dapat ikut wisuda harus selesai kapan mas?”  Jawabku: “Iya Ul, daku berusaha ikut wisuda bersama kalian.  Batasnya awal Juli harus sudah masuk ladang.”  “Oh Ya?  Wah berarti masih ada kemungkinan dong daku bisa ikut wisuda tahun depan!”  suaranya penuh semangat.  “Iya Ul.  Ayo semangat, kita selesaikan perjuangan kita!”  sahutku dengan senang.  “Iya mas, tunggu daku ya!” jawab Paul.  “Pasti teman!” tegasku.

Di hari lain…
Pak Happy dan Bu Diah mengajak kami main ke tempat pelayanannya.  Pak Happy, Paul, Teddy, dan daku naik motor ke Tebo.  Sesampainya da sana, kami bercanda dan berbicara tentang banyak hal.  Setelah makanan siap disantap, sejenak kami mendengar ungkapan isi hati Pak Happy dan Ibu Diah, bahwa mereka sangat senang sekali bisa melihat Paul kembali, itulah sebabnya mereka mengundang kami untuk makan bersama.  Tanpa ragu-ragu, Paul mencoba semua jenis masakan yang tersedia.  Kulihat wajahnya yang cerah menikmati makanan enak yang telah dihidangkan baginya.

Di suatu malam…
Temen-temen masta yang laki-laki sepakat mengadakan acara di kamar Paul.  Setelelah semua berkumpul dan ayam goreng sudah tersedia, kami berdoa mengucapsyukur atas kebaikan Tuhan pada saudara kami Paul, yang sudah berada di tengah-tengah kami lagi.  Sambil menikmati makanan, kami bercanda dan tertawa sampai puas.  Sungguh kami menikmati kebersamaan malam itu.

Sabtu malam…
“Mas Kris, besok kita ibadah sama-sama yuk.  Setelah itu kita wisaya kuliner” ajaknya.  “Lho, bukannya dirimu harus jaga makanan Ul?” tanyaku.  Dengan tersenyum Paul menjawab: “Tenang aja mas, masih bisa diatasi kok.”

Minggu pagi…
Kami ibadah pagi di GKKK Kasin.  Semua yang kenal dengan Paul menyambutnya dengan senyuman dan semangat.  Beberapa hamba Tuhan bertanya sampai kapan dia ada di Malang, karena akan dijadwalkan pelayanan kesaksian atas kebaikan Tuhan.  Bahkan GKKK Tebo langsung memberikan kesempatan Paul pelayanan kesaksian di ibadah sore.  Setelah ibadah, kami wisata kuliner… rawon Kasin, ayam goreng Bu Kris, bebek goreng Haji Slamet.  Sorenya, Paul berangkat pelayanan di Tebo, daku pelayanan di Bareng.

Beberapa hari kemudian…
“Ul, daku minta maaf.  Kali ini daku hanya bisa menjemputmu da bandara, tetapi kemungkinan besar gak bisa antar dirimu, karena daku harus pulang ke Solo untuk menghadiri pemakaman Ibu Inge (pendeta GKKK Solo yang sakit kanker)” sambil kutatap matanya.  Sambil tersenyum Paul menjawab: “Gak papa mas, masih ada temen-temen yang bisa antar kok.”  Daku pun tersenyum: “Sampai jumpa lagi ya Ul.  Tetap semangat!”  Dengan pasti Paul menjawab: “Pasti, mas Kris!”

Daku pulang ke Solo tanpa menemukan jawaban kenapa harus ada penundaan?...
Ternyata itu menjadi momen yang terakhir daku menatap wajah Paul…
Daku pernah bertanya pada Paul: "Dirimu tidak menuliskan perjalanan imanmu bersama dengan Tuhan?" Jawabnya: "Tidak mas, karena daku lebih senang bercerita secara langsung!"... Dalam hatiku: "Andai daku punya kesempatan menuliskannya!"... Terima kasih sudah berbagi saudaraku!

0 comments:

Post a Comment