Friday, March 28, 2014

Karunia Ilahi+Kenikmatan Diri yang Terkendali = Kepuasan Sejati

Dari semula tubuh manusia dirancang sedemikian rupa sehingga memiliki sensasi-sensasi kenikmatan.  Ketika manusia melihat keindahan alam, mata merasakan kenikmatan.  Ketika manusia mencium wangi-wangian, hidung merasakan kenikmatan.  Ketika manusia mengecap makanan yang enak, lidah merasakan kenikmatan.  Ketika manusia mendengar suara yang merdu, telinga merasakan kenikmatan.  Demikian juga jiwa manusia, dari sejak semula telah dirancang sedemikian rupa sehingga memiliki sensasi kenikmatan.  Ketika manusia menjadi kaya raya, jiwa merasakan kenikmatan.  Ketika manusia menduduki jabatan tertinggi, jiwa merasakan kenikmatan.  Ketika manusia mencapai apa yang diharapkannya, jiwa merasakan kenikmatan. 
                   Pada dasarnya manusia tidak rela tubuh dan jiwanya kehilangan sensasi-sensasi kenikmatan tersebut.  Jika kenikmatan itu tertunda, maka tubuh dan jiwa manusia akan merasakan kelaparan dan kehausan.  Bahkan jika kenikmatan itu hilang dan lenyap, maka dapat dipastikan tubuh dan jiwa manusia akan merasakan penderitaaan yang sangat dalam.  Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan jika demi kenikmatan tubuh dan jiwa tetap dapat dirasakan selalu, manusia berusaha dengan menghalalkan segala cara.  Demi kenikmatan lidah, manusia menjadi rakus.  Demi kenikmatan seks, manusia berzinah.  Demi kenikmatan jiwa, manusia melakukan korupsi, memakai narkoba, dan bahkan membunuh.
                  Puncak dari segala kenikmatan itu disebut kepuasan.  Dorongan untuk berusaha mencapai kepuasan itu disebut hasrat.  Komitmen untuk berusaha mencapai kepuasan itu disebut tekat.
                  Tidak ada manusia yang dapat menandingi usaha mengejar kenikmatan dan kepuasan tubuh dan jiwanya selain daripada Pengkhotbah.  Lihatlah hasrat dan tekatnya untuk mencapai kepuasan:
  • Aku membulatkan hatiku untuk memeriksa dan menyelidiki dengan hikmat segala yang terjadi di bawah langit (1:3)
  • Aku telah memperbesar dan menambah hikmat lebih dari pada semua orang yang memerintah atas Yerusalem sebelum aku (1:16)
  • Aku telah membulatkan hati untuk memahami hikmat dan pengetahuan, kebodohan dan kebebalan (1:17)
  • Aku melakukan pekerjaan-pekerjaan besar (2:4)
  • Aku membeli budak-budak dan mempunyai banyak ternak melebihi siapapun yang pernah hidup di Yerusalem sebelum aku (2:7)
  • Aku mengumpulkan bagiku juga perak dan emas; serta banyak gundik (2:8)
  • Aku menjadi besar, bahkan lebih besar dari pada siapa pun yang pernah hidup di Yerusalem sebelum aku (2:9)
  • Aku tidak merintangi mataku dari apa pun yang dikehendakinya, dan aku tidak menahan hatiku dari sukacita apa pun (2:9)
Lalu apa kesimpulan Pengkhotbah?
                Ketika Pengkhotbah ingin menyampaikan hasil dari segala usahanya tersebut, semua mata manusia menatapnya, semua mulut manusia tertutup, dan semua tubuh manusia terdiam, menanti-nantikan jawaban dari Pengkhotbah.  Keheningan dan kesunyian memenuhi seluruh bumi.  Akhirnya Pengkhotbah pun berdiri dan membuka suaranya: “Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia!” (1:2).  Betapa terkejutnya seluruh manusia mendengar kesimpulan Pengkhotbah tersebut: Bagaimana mungkin segala sesuatu adalah sia-sia?  Mengapa segala sesuatu adalah sia-sia?  Sebagian manusia menangis dan meratap karena duka yang mendalam memenuhi tubuh dan jiwanya.  Tetapi sebagian manusia marah dan murka karena menolak kesimpulan Pengkhotbah.
                Memang benar bahwa dari semula tubuh dan jiwa manusia dirancang oleh Allah sedemikian rupa sehingga dapat merasakan sensasi-sensasi kenikmatan.  Tetapi bukan demi kenikmatan itu sendiri tujuan Allah menciptakan manusia.  Ada 3 realita yang harus disadari, diakui dan diterima oleh manusia:
  • Keterbatasan tubuh untuk merasakan kenikmatan.
  • Ketidakterbatasan jiwa untuk merasakan kenikmatan.
  • Keberdosaan manusia yang merusak kenikmatan.

                Realita kehidupan yang tidak akan pernah bisa ditolak oleh manusia adalah kemampuan tubuh untuk merasakan kenikmatan semakin lama semakin berkurang.  Mata semakin buta untuk menikmati alam yang indah.  Telinga semakin tuli untuk menikmati suara yang merdu.  Lidah semakin hambar untuk menikmati makanan yang enak.  Kemampuan tubuh untuk merasakan kenikmatan memang terbatas, tetapi jiwa tidak.  Benar apa yang dikatakan oleh Blaise Pascal, seorang fisikawan dan theolog: “Di dalam hati dan jiwa manusia terdapat lubang yang sangat lebar dan dalam, yang tidak akan pernah mampu dipenuhi/dipuaskan oleh apapun juga, selain dari kasih Allah!”  Sekalipun manusia memunyai begitu banyak harta, begitu besar kuasa, dan begitu tinggi pengetahuan, tetapi jiwanya tidak akan pernah dapat dipuaskan oleh itu semua.        Kesia-siaan menjadi jelas, tegas, dan pasti dialami oleh manusia karena keberdosaannya.  Dosa telah merubah arah dan merusak nilai kenikmatan manusia, sehingga segala sesuatu pasti menjadi sia-sia.
Jika demikian, apakah manusia tidak mungkin dapat merasakan kepuasan sejati?  Bagi manusia itu mustahil, tetapi bagi Allah tidak!
                Manusia yang pernah mengalami kepuasan sejati adalah Adam dan Hawa.  Sebelum jatuh ke dalam dosa, ada keharmonisan relasi mereka dengan Allah, diri, sesama, dan alam yang membuat mereka dapat merasakan sensasi-sensasi kenikmatan tubuh dan jiwa yang sungguh luar biasa.  Tetapi setelah jatuh ke dalam dosa, maka mereka tidak akan pernah dapat merasakan kepuasan yang sejati.  Hanya melalui kematian dan kebangkitan Kristus yang memberikan harapan dan jaminan pasti, maka manusia dapat kembali merasakan kepuasan yang sejati.
                Pengkhotbah juga memberikan catatan sangat jelas dan tegas bahwa tanpa Allah yang memberikan karunia kuasa kepada seseorang untuk menikmati segala kekayaan dan kemuliaan, maka itu semua adalah kesia-siaan dan penderitaan yang pahit (5:18-6:2).  Bahkan Pemazmur pun berseru: “Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa” (16:11).
                Ketika jiwa manusia dipuaskan oleh Allah, itu bukan berarti menghilangkan atau mematikan kenikmatan diri, tetapi memunculkan dan membuahkan pengendalian diri.  Sebab kenikmatan diri yang tidak terkendali adalah candu yang sia-sia. Itulah sebabnya John Piper berkata: “Untuk dapat sungguh-sungguh menikmati segala sesuatu, dibutuhkan pengendalian diri.”
                Tanda utama jiwa manusia yang telah dipuaskan oleh Allah adalah ia pasti menjadi berkat bagi sesamanya.  Karena kasih Allah yang memenuhi jiwa manusia itu melimpah dan meluap keluar, maka sesamanya pasti juga turut merasakannya.  Dengan demikian, semakin banyak orang memuliakan Allah yang telah memuaskan jika kita.  Itulah yang dimaksud John Piper: “Allah paling dimuliakan di dalam kita saat kita paling terpuaskan di dalam Dia.”
                Memang benar bahwa: Segala sesuatu adalah sia-sia, jika tanpa Allah!  Bersama Allah, maka segala sesuatu menjadi penuh makna!

“Hatiku Percaya” : Kenangan dengan Paulmanto 4



8 April 2011

05:00 WIB
Ting-tong!... Bangun!... Bangun!... Kerja bakti!...
Pagi ini hujan turun membasahi kota Malang…
Mentari pagi tertutup oleh gelapnya awan…
Dinginnya udara pagi menambah pergumulan untuk bangun pagi dan kerja bakti...

05:40 WIB
Wah... gak terasa kerja bakti selesai juga!... Masih ada waktu tuk nyantai sebentar nih!...
Tiba-tiba kudengar nyanyian:
”Saat ku tak melihat jalan-Mu... Saat ku tak mengerti rencana-Mu...
Namun tetap ku pegang janji-Mu... Pengharapanku hanya pada-Mu...
Hatiku percaya... Hatiku percaya... Hatiku percaya... Selalu ku percaya!...”
Dari suaranya, daku bisa langsung bisa tebak siapakah yang sedang menyanyikan lagu icu...
Walaupun suaranya gak semerdu Edward Chan... atau Mike...
Tetapi mampu menggetarkan jiwaku... karena dia menyanyikan dengan hati...
Spontan daku langsung ambil gitar... memetik senar-senarnya sesuai dengan nada lagu icu...
Dia mendengar suara gitaranku... lalu masuk ke kamarku... dan kami menyanyi bersama...
Menyanyi dan bercanda... iculah yang kami lakukan...
Singkat tetapi berkesan...iculah yang daku rasakan...

06:10 WIB
Wah... gak terasa udah mau saat teduh!...
Merenungkan apa yang kami lakukan di pagi ini... daku teringat peristiwa tahun 2004 di Solo...
Suasana paginya sama... tetapi lagu yang kami nyanyikan berbeda...
“Kau selalu hadir saat aku rindukan-Mu...
Kau yang selalu setia menopangku dengan kasih setia...
Memberi aku kekuatan... ditengah badai yang menakutkan...
Sampai memutih rambutku Kau putuskan aku menutup usiaku...
Kukan selalu menyembah-Mu oh Yesus Tuhanku...
Ku milik-Mu... selamanya bagi-Mu”

Waktu icu daku sedang bergumul dengan skripsi Fisika...
”Perancangan Kolektor Termal Energi Surya Tipe Datar Plat Gelombang dan Pengujian Performansinya”...
Sementara kakakku bergumul dengan kanker usus besarnya...
Sekarang daku sedang bergumul dengan skripsi Theologia...
”Kontekstualisasi Yesus Kristus Menurut Konsep Ratu Adil dan Implikasinya bagi Penginjilan pada Orang Jawa”...
Sementara saudaraku bergumul dengan kanker darahnya...

Aku berkata kepadamu:
”Engkau hamba-Ku, Aku telah memilih engkau dan tidak menolak engkau;
jangan takut, sebab Aku menyertai engkau, jangan bimbang, sebab Aku ini Allahmu;
Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau;
Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan!”
Yesaya 41:10

Di dalam pergumulan skripsi, kanker, atau apapun... mari kita berseru:
”Tuhan adalah gembalaku...
Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku...”
Mazmur 23

Selamat berjuang saudaraku Paul Manto...
Selamat berjuang saudara-saudaraku Manusikrip...
Selamat berjuang saudara-saudaraku yang masih kuliah dan yang sudah ada di ladang...
Biarlah kita didapati-Nya sebagai hamba yang setia dan mempermuliakan-Nya!... Amin!

Tuesday, February 25, 2014

“Hina dan Mulia Jalan Salib: Sebuah Paradoks!”

Manusia diciptakan dari debu tanah (Kej. 2:7).  Debu adalah materi yang dianggap tidak berharga dan tidak berguna.  Tetapi manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej. 1:26-27).  Dua fakta ini menunjukkan bahwa manusia diciptakan dari yang hina menjadi yang mulia.
            Di taman Eden, iblis mencobai manusia dengan berkata: “Sekali-kali kamu tidak mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat” (Kej. 3:4).
            Bukankah Firman Tuhan menyatakan bahwa manusia sudah segambar dan serupa dengan Allah?  Kebingungan manusia untuk memilih yang mana, disebabkan dari keraguan manusia akan kepastian kebenaran Firman Tuhan.  Kesalahan manusia dalam menentukan pilihan, disebabkan dari ketidakpercayaan manusia akan kepastian kebenaran Firman Tuhan.  Akhirnya manusia memilih untuk berkata: “Bukanlah kehendak-Mu, melainkan kehendakkulah yang terjadi!”
            Akibat dari pilihan manusia itu, maka: mereka mati; mata mereka terbuka dan tahu bahwa mereka telanjang; gambar dan rupa Allah rusak.  Ketika kemuliaan manusia telah hilang (Rm. 3:23), maka yang tinggal hanyalah kehinaannya.  Sejak saat itu, manusia di segala tempat dan zaman, berseru dan berusaha untuk mendapatkan kemuliaannya yang telah rusak itu.  Kain di dalam pelariannya dari depan Tuhan berusaha “mendirikan suatu kota” (Kej. 4:17).  Manusia mendirikan sebuah kota dengan sebuah menara untuk “cari nama” (Kej. 11:4).  Kota adalah simbol kekayaan, keamanan, kekuasaan, dan kemuliaan.
            Tetapi Firman Tuhan berkata: “Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan Tuhan yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga” (Mzm. 127:1).
            Musa memilih Tuhan sebagai kota bentengnya (Mzm. 94:22), sehingga ia rela meninggalkan kemuliaan dunia yang palsu, dan “lebih suka menderita dengan umat Allah” (Ibr. 11:24-26).  Daud memilih Tuhan sebagai kota bentengnya (Mzm. 62:3), sehingga sekalipun ia raja Israel yang mulia, tetapi tidak menaruh kemuliaannya pada harTa, tahTa, dan waniTa, melainkan kepada Tuhan Sang PencipTa.
            Terlebih dari semuanya, ada Pribadi yang unik, yang sungguh-sungguh pernah hadir di tengah-tengah kita, yaitu Yesus Kristus.  Dia adalah Allah sejati dan manusia sejati.  Dia adalah Anak Tunggal Bapa, yang Terkasih, Terpilih, dan Termulia.  Tetapi Dia “yang walaupun dalam rupa Allah (mulia), tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba (hina), dan menjadi sama dengan manusia” (Flp. 2:6-7).  Sekalipun Dia Raja Yang Mahamulia, tetapi lahir di kandang yang hina, hidup sangat dihina, mati di dalam kehinaan.  Yang Termulia menjadi yang terhina.
Di padang gurun, iblis mencobai Yesus Kristus dengan berkata: “Jika Engkau Anak Allah maka...” (Mat. 4:3).  Bukankah Firman Tuhan menyatakan bahwa Dia memang Anak Allah?  Yesus Kristus tidak meragukan kebenaran Firman Tuhan.  Dia percaya secara penuh akan kebenaran Firman Tuhan.  Dia mengetahui status-Nya sebagai Anak Allah, sehingga Dia mengalahkan pencobaan iblis tersebut.  Sampai pada akhirnya, di taman Getsemani, Yesus Kristus memilih untuk berkata: ”Bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi” (Luk. 42).
Yesus Kristus bukan hanya mengajarkan paradoks kepada murid-murid-Nya: ”pemimpin sebagai pelayan” (Luk. 22:26), tetapi Dia juga menghidupinya.  Setelah Yesus Kristus berkata: ”Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan... Bapa, muliakanlah nama-Mu!”  dan terdengar suara dari sorga: ”Aku telah memuliakan-Nya, dan Aku akan memuliakan-Nya lagi!” (Yoh. 12:23-29); Dia justru bangun, menanggalkan jubah-Nya, mengambil sehelai kain lenan, mengikatnya pada pinggang-Nya, menuangkan air ke dalam sebuah basi, membasuh kaki murid-murid-Nya, menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu, mengenakan pakaian-Nya, kembali ke tempat-Nya, lalu berkata kepada mereka: ”Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu?” (Yoh. 13:14-12).  Yang termulia melakukan pekerjaan yang terhina.
Puncak kehidupan Yesus Kristus, yaitu di atas kayu salib, Raja Yang Mahamulia itu justru menerima hinaan dari orang Yahudi dan orang non-Yahudi, dari pejabat dan penjahat.  Berbagai tuduhan dan fitnahan ditujukan kepada-Nya, wajah-Nya ditampar dan diludahi, pungguh-Nya dicampuki, kepala-Nya dihiasi mahkota duri, tangan dan kaki-Nya dipakukan pada kayu salib, pakaian-Nya dibagi-bagi dengan membuang undi, perkataan olok-olokan, ejekan dan hujatan dilontarkan pada-Nya.  Tetapi justru Dia berdoa: ”Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk. 23:34).  
            Penghinaan adalah sesuatu (pikiran, perkataan, dan perbuatan) yang tidak pantas, tidak layak, dan tidak semestinya ditujukan pada yang mulia.  Negara mempunyai simbol dan pribadi yang dianggap mulia, seperti: bendera, lagu kebangsaan, presiden, dsb.  Untuk menjaga kewibawaan dan kehormatannya, maka orang yang melakukan penghinaan terhadapnya akan mendapatkan hukuman yang berat.  Itulah yang dialami oleh orang yang melemparkan sepatunya dan mencaci-maki presiden Amerika.  Bukankah terlebih lagi seharusnya manusia menerima hukuman yang jauh lebih berat karena telah melakukan penghinaan pada Raja Yang Mahamulia?
            Yesus Kristus memberikan respon yang baik, benar, dan tepat, karena Dia tidak memerlukan kesaksian dari manusia (Yoh. 5:34).  Kemuliaan-Nya di mata Bapa tetap, sekalipun manusia menghina-Nya.  Jika Dia yang sungguh-sungguh mulia menerima segala penghinaan dengan kasih, lalu mengapa manusia yang sungguh-sungguh hina justru penuh dengan kebencian ketika dihina?  Kehormatan, keagungan, dan kemuliaan seseorang terlihat jelas dari responnya, bukan ketika dia menerima pujian, tetapi ketika dia menerima hinaan.
            Akhirnya, ”Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ”Yesus Kristus adalah Tuhan” bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Flp. 2:9-11).
            Jalan salib adalah jalan satu-satunya, yang penuh dengan kehinaan, kesengsaraan, dan kematian, yang menuju pada kemuliaan, keselamatan, dan kehidupan!... Hanya dengan menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Dia, maka kita bisa menikmati keindahan dan keagungan paradoks jalan salib tersebut!